Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Juli 2012

Yang Terdalam
By:Peterpan
Kulepas semua yang kuinginkan
Takkan kuulangi
Maafkan jika kau kusayangi
Dan bila kumenanti
Pernahkah engkau coba mengerti
Lihatlah kudisini
Mungkinkah jika aku bermimpi
Salahkah tuk menanti
Reff:
Takkan lelah
Aku menanti
Takkan hilang cintaku ini
Hingga saat kau tak kembali
Kan kukenag dihati saja
*****
Kau telah tinggalkan hati yang terdalam....
Hingga tiada cinta yang tersisa dijiwa....
Wee.....btw, anyway, sepurway....(hehehe....maklum aq agak anti ama bus, n amat cintrong ama sepur alias kereta api meski sekarang ga ada apinya), kenapa lagu “yang terdalam” dari Peterpan kutulis sebagai pembuka postingq kali ini??? Pasti yang kenal aku tau banget aku agak crazy ama Ariel (terserah lu pada komentar apa! E G P). Tapi lebih dari itu...lagu itu adalah lagu pertama yang aku bisa saat aku belajar gitar. Selain kuncinya (kunci gitar maksudnya.....) mudah, genjrengannya juga gampang, yach....easy listening lah....!!!! wehehehehe.....ngomong-ngomong bwt kalian yang bisa maen gitar, pasti inget toh lagu apa yang pertama kalian genjreng di gitarmu????
Ga tau juga nie karena kebetulan apa gimana. Yang jelas lagu ini adalah salah satu kepingan mozaik hidupku (Cieh....!!!!pinjam istilahnya om Andrea Hirata). Dulu Aq ama my Best Pren suka banget ama lagu ini. Ga nyadar aja....tiap kali qta kehabisan bahan buat ngobrol and lagi bengong ato sambil nemenin dia browsing tugas di internet, Qta pasti nyanyiin lagu ini. Lagu wajib lah!!!! Aku pernah bilang ama dia klo someday aku pengin nyanyi lagu ini sambil gitaran. Dan...sekarang setelah beberapa tahun kemudian, Tuhan menyerap kata-kataku dan menjadikannya kenyataan dengan cara yang paling natural dari yang bisa dipikirkan manusia. Ajaib!!!! Dan aku seneng....B A N G E T !!!!
Sekarang klo aku kangen ama temenku itu, aku langsung ambil gitar dan nyanyi di depan fotonya. Sedikit bisa mengobati rasa rinduku...dan aku yakin di alam sana dia pasti ikut bernyanyi bersamaku. So...semoga kau ga’ akan pernah ngerasa keepian disana pren.... This song for u...
NB:
Lagu ini juga lagu #1 yang kupersembahkan buat pacarku...meski aku ngomongnya Cuma lewat sms (wehehehe....^_^), yang laen boleh ngiri..

Kamis, 26 Januari 2012

Ada Sebuah cerita....


Setiap manusia pasti punya cerita hidup. Yang menurut mereka sangat indah, sangat menyedihkan, sangat berkesan, atau hanya lewat satu persatu... tanpa harus dirasa. Menurutmu kenapa Allah menciptakan sebuah memory? kenapa Allah menciptakan kenangan? Untuk belajarkah? ato...mungkin untuk yang lain yang belum kau mengerti???(karena aku juga masih mencari)
Cerita dalam sebuah satu nyawa adalah puisi indah dunia ini. skenario drama paling menakjubkan yang pernah ada. Sinetron hidup yang tanpa cacat scene atau salah casting.Betapa Maha Kuasa Allah ciptakan cerita dari setiap nyawa yang dia ciptakan. Tull ga'??
Masalahnya...entah kenapa aku bingung memposisikan diriku atas skenario yang tanpa cacat ini. Kadang aku ingin mempertanyakan memory...kadang aku menertawakan kenangan. Kadang aku marah pada kenyataan yang memang sudah ada. Bukan...jangan dikira aku menangisi orang atau seseorang. Tapi hilangnya keyakinan dan kepercayaan yang kupgang selama ini. Sejauh aku bernafas.
Gini aja...contoh mudahnya.
Aku ini pernah sangat percaya bahwa cinta bisa mengalahkan apapun.orang bilang aku ini terlalu melankolis, terlalu men-set diriku ini jadi perfect. Tapi kebanyakan dari teman2ku juga berkata, memang harus begitu kan?? Jika kau sayang sama seseorang, keep fight until the end!Tapi kenyataannya...!!!!?? pikiran seperti itu malah membuat qta mengharap (partner) qta untuk fight juga. dan hasilnya akan sangat mengecewakan saat pikiran2 yang egois merasuki hubungan itu. Percuma sudah janji, impian, dan harapan. Bulshit!!! yang ada hanya itu tok! aku ingin jadi itu, aku ga ingin kau merubah aku jadi itu, aku ingin kau maju tanpa aku jadi bebanmu, aku ingin bebaskanmu, aku ingin bebaskan diriku sendiri, aku juga sakit, aku tidak ingin kau rasakan sakit, HA..HA...HA...!!!!lelucon dari setiap penggal cerita yang ada di dunia ini. Aya-aya wae....!!!
Rasanya tanggung jawab jadi khalifah di muka bumi ini kok berat sekali ya??? Jadi khalifah untuk diri-sendiri aja bingung.

Trus satu hal lagi...kenapa ya???!!!klo orang pernah ngerasa disakitin sama orang lain trus mikirnya enteng banget saat dia juga melakukannya ke orang lain."aku juga pernah kok digitukan sama orang lain, aku tau kok gimana rasanya, aku pernah lebih sakit kok dari itu..." Yaiks!!! SO WHAT??? nggak jadi alasan atau menjadikan orang itu berhak memberi rasa sakit yang sama bukan.
Dunia sudah edan!! Janji hanya kacang goreng!!! makan tuh janji...! bagaimanapun itu adalah hak bagi orang yang kau beri janji,nuwun sewu....bagi yang merasa tersinggung. memang aku menyinggung semua....juga untuk diriku.tapi khususnya memang untuk dirimu.
Karena Janji itu...Still mine...Untill the end. Soo...enjoy your new world.

Minggu, 14 Agustus 2011

Saat Aku Mingunggg Menulis Statuss FB Q.... .. .



Kemana perginya semua kata? Seakan pergi menguap begitu saja saat ingin kuucap. Setahuku aku tak punya riwayat bisu. Yang pasti aku sudah mencoba menyusunnya. Setiap hari disetiap waktu aku memikirkannya. Menyusun indah kata-kata. Yang lugas! Ataupun berbunga-bunga. Tapi begitu banyak hal…begitu banyak pertimbangan. Banyak sekali pukulan-pukulan dari nurani untuk enggan menuliskan sajak-sajak itu. Tapi hatiku mendorong tanpa ampun untuk mengungkapkan dengan jujur. Keduanya tak kusetujui..keduanya tak kumengerti.. aku bingung minta ampun.
Aku menahan mual saat diam memikirkannya di senggang-senggang waktuku. Aku marah di saat aku harusnya memikirkan hal-hal lain. Aku berlari setiap aku tak tahan untuk mengucapkannya. Semua kata berkelebat dengan hebatnya.. susunan huruf yang menyerangku tanpa ampun. Semua kalimat ingin kumuntahkan. Jari-jari tanganku tak tahan untuk menuliskannya. Hatiku seringkali sudah siap atas semua yang akan terjadi jika semua membacanya, lalu menuangkan komentarnya. Tapi aku malah tak tahu dari mana memulainya. Sangat menakjubkan tatkala aku sadar bahwa semua kata tak akan mampu mewakili segala yang ada. Tak akan habis kata keluar dari mulutku. Tak akan habis fikir aku menyusunnya.
Sungguh aku kehabisan akal meredam semua yang ingin kutuliskan. Sering aku menyerah lalu kutulis saja lirik-lirik lagu. Biar kita semua bernyanyi. Biar kita hanyut dalam nada. Mungkin akan sudi kau iringi dengan tarianmu. Temani aku belajar bahasa-bahasa.. Bagaimana menyusunnya... Dan memberi keberanian padaku untuk menuliskannya lagi…
Setelah hari itu, saat sign in ke FB, aku hanya lihat status-status itu..lalu aku sign out lagi. Hhh…menambah banyak rangkaian-rangkaian kata yang protes minta disusun lagi.
-Cerita orang yang ga lagi punya ide status untuk FB-nya..Hahahahha…-
Hiah..!!! jadi nglindur! Sign out ahh,…

Selasa, 09 Agustus 2011

Q Lintasi semesta



Bau solar ini sangat menyengat. Goncangan bus semakin mengocok perutku. Sekarang aku hanya bisa mengutuki diriku sendiri, menyesal mengisi perutku hanya dengan secangkir kopi pagi ini. Matahari pagi ini juga terik. Menyeruak seakan marah menembus kaca bus. Kutarik tirai yang berwarna merah maroon, warna yang tak biasa untuk ukuran bus ekonomi (begitu pikirku). Bus berhenti di lampu merah, dan kulihat seorang pedagang asongan naik. Bukannya segera menjajakan dagangannya, tapi malah duduk di bangku yang kosong.
Sepagi ini wajahmu telah lelah
Jiwa tak boleh goyah
Ayo terus langkah
Tendang keluh kesah
Bukan saatnya menyerah
Ingin kukatakan narasi ini padanya, ahh..tapi apa ya dia mengerti? Aku tertawa sendiri. Lalu kembali gelisah..ini bus lama sekali. Kulihat jam yang ada di HP-ku, dan pada saat itu pula HP itu bergetar. 1 message received, kubuka dan kubaca.
kau sampai mana? Kira-kira nyampai jam berapa?
Sedikit panik aku mengetuk-ngetuk kakiku. Mengetik sort message setelah menekan tombol reply. Belum sampai satu kalimat kuhapus lagi semua yang sudah aku tulis. Mengetuk-ngetukkan tanganku ke pangkuanku sendiri sekarang. Berpikir apa yang harus kukatakan atas keterlambatanku kali ini. Ahh…sekarang tak hanya perutku yang ku kutuki, tapi ini juga. Kuputuskan untuk menelpon saja.. agak ragu aku memencet nomor yang tadi mengnirimiku sms. Nada sambung…dan akhirnya diangkat. “hallo,kau dimana?” kata suara disana kepadaku. “Dengar..sepertinya aku harus jujur padamu. Aku terjebak macet. Dan sekarang masih di dalam bus menuju kesana. Kau marah?” tanyaku tak lebih dari harapan. “Kau tenang saja, pastikan saja kau datang tepat waktu. Semua tergantung dirimu sendiri. Oke?” “aku mengerti maksudmu, aku berusaha.. dan sekarang aku hanya bisa berharap Tuhan memberiku sedikit waktu” kututup teleponku tanpa berpamitan. Aku tahu tak akan ada yang tersinggung dengan itu. Kami sudah terbiasa seperti itu. Apalagi dalam keadaan gusar seperti ini.
Waktu..
Hentilah sejenak untukku
Beri aku ruangmu
Demi itu…
Bus sudah lepas dai kemacetan. Tapi hatiku tak mau berhenti berdetak galau. Tuhan..tolong aku… (aku berdo’a lirih hampir terdengar samar). Penumpang disampingku keliatan ikut tak nyaman melihat keresahan yang tampak olehku. Kulihat keinginannya untuk mengajakku berbicara. Tapi aku mengelak dengan membuang pandanganku keluar jendela. Maaf..aku sedang tak ingin mengobrol. Aku hanya akan terdengar konyol dalam keadaan marah karena frustasi semacam ini. Kenek bus meneriakkan nama sebuah terminal. Aku terhenyak bangkit dan langsung bersiap di pintu keluar.
Jangan!
Jangan pergi dulu.
Ini aku
Berlari mengejarmu
Berhenti disitu.
Hentikan sejenak langkahmu
Samakan dengan langkahku
Begitu bus berhenti, aku segera berhambur turun dan berlari menuju depan peron terminal. Kupencet tombol redial di HP-ku. Langsung diangkat.. “Aku sampai” aku menyela sebelum orang diseberang sana bicara. “hampir telat” katanya. “tapi aku tidak telat kali ini” jawabku bangga terlebih lega. “Tak semudah itu, kau harus lebih baik dari itu” katanya, “Maksudmu?” tanyaku mulai tak sabar dan mulai marah. “Sabar..bukankah kita sudah sepakat?” tanyanya tak memerlukan jawaban. “Kita tak pernah menyepakati apapun” jawabku protes dan emosi. “ Kesepakatan tak harus di ucapkan kan? Dan kau bilang kau harus mendapatkan ini” aku tak tau ini pertanyaan atau pernyataan untukku. “Sudahlah! Katakan saja maumu. Lalu kita selesaikan” kataku hampir berteriak. “Kenapa kau lakukan ini?”tanyanya sedikit rapuh. “Aku tak punya alasan” jawabku. “Kau harus punya” jawabnya tak mau kalah. “ Akan kukatakan kalau kau menemuiku disini. Sekarang!!” aku sangat kesal dan marah, hampir kubanting HP di genggamanaku. Terdengar hening di seberang sana..beberapa saat kami tak saling bicara. Aku mulai menguasai keadaan. Lalu bertanya padanya..”Kenapa?” “Aku tak tahu” jawabnya. “Begini saja…” tut..tut..tut… nada terputus. Tak terdengar apapun dari benda sialan ditanganku itu. Kupencet radial lagi. Tak ada nada sambung, yang terdengar hanya rekaman suara menyebalkan operator yang memberi tahu untuk menghubungi nomor itu beberapa saat lagi. Aku mencari sandaran.. lama tatapanku kosong. Lalu kuketik sort message :
Kita sama tahu semua sudah berubah. Kita tak perlu alasan apapun. Aku disini tak kemana. Kembali kesini dan hadapi semua. Kau tahu harus mencariku kemana
Message sent….
-The End-
NB:-Terinspirasi atas lembar ucapan terima kasih dari novel karangan Tamara Geraldine yang juga pernah kudengar dari seorang sahabatku. “kadang mengejar tujuan adalah dengan jalan berlari pulang” .
-Mungkin aku tak akan menemukan apapun disana, tapi disanalah aku mulai bermimpi..dan berharap disanalah kutemukan sisa mimpi-mimpiku.

Senin, 10 Januari 2011

Saat Hujan Tak Lagi Gerimis


Hangatnya matahari terusik mendung yang menjingga. Orang pun lalu-lalang bergegas mencari tempat yang aman dari berangasnya alam yang seakan mencekam. Tapi denganmu aku tidak merasa tergesa. Kau berjalan laksana percaya pada dunia. Meski sering kali kau membuatku sebal jika kutanya apa itu? Atau kenapa begitu? Bagaimana tidak..? karena jawabanmu akan selalu sama.. sebuah senyuman. Hhh…aku habis akal karena tak sabar.
Pernah suatu hari di suatu pagi… Meratap dinginnya senja di pagi hari. Menyusuri jalan-jalan setapak yang kujejaki semalam tadi. Mencari teka-teki keresahan yang menjajah relung-relung hati. Banyak pilihan jalan yang bagiku tampak serupa. Semua dengan resiko yang tak bisa kupandang sebelah mata. Dibalik debu dan kabut yang menyelimutinya. Aku akan mencoba perlahan mencari jawaban semua tanya atau mungkin hanya mimpi-mimpiku yang tak pernah ada ujungnya. Lalu kutanya padamu yang menggenggam tanganku ringan. Harus bagaimana? Kau hanya tersenyum lalu menarikku berjalan menyusuri taman. Lalu kau ceritakan tentang bunga-bunga yang bermekaran… dongkol bukan main hatiku saat itu. Lalu tanpa sadar aku terlena dengan indahnya kupu-kupu yang berterbangan diantara bunga-bunga yang kau ceritakan. Aku takjub dan tersenyum riang… lalu aku terlupa akan masalah yang memang tak ada habisnya. Denganmu kau ajarkan aku menjalani tantangan. Bukan berlari menghindar..
Mungkin dunia akan menanyakan pada langit senja ini apa yang terjadi. Serba-serbi manusia akan muram dengan meredupnya bumi. Dengan air mata yang mencurah haru dari langit.. seakan menghalangi mimpi-mimpi manusia yang bertebaran di atas tanah. Tapi bersamamu aku hanya terdiam. Mengikutimu menadah hujan dengan kedua tangan. Mencoba merasakan apa yang hendak disampaikan alam..begitu katamu. Aku hanya cengar-cengir mengikuti saja. Kurasakan hujan gerimis menyapu lembut telapak tanganku. Pelan…lalu membasuh mukaku. Aku tak lagi melihat muramnya langit mendung yang menjulang. Tak lagi hiraukan jadwal padat yang menanti ku di depan. Aku turut mendengarkan alam yang bercerita sambil berdendang. Meski bahasanya kadang tak bisa aku mengerti… bahkan seringkali membuatku merintih sepi. Tapi denganmu, kini aku diam berkhidmat… kau bungkam tanyaku dengan senyum penuh artimu. Kau raih lagi tanganku. Lalu kau tunjukkan padaku di ujung langit jauh sana… pemandangan luar bias indah menyesakkan hati. Indah sebuah pelangi menghantarkan gerimis lembut yang menyapu bumi.
Lalu saat hujan tak gerimis lagi… kau mengajakku menjalani lagi hari sambil menceritakan tentang warna-warna pelangi… J
BASED ON TRUE STORY….
Thx to all yang pernah, selalu dan akan menggenggam tangan menghadirkan senyum di duniaku ini… kalianlah sahabat… kamulah sahabat…

Minggu, 23 Mei 2010

Jangan Kau TAnya AQ,, MenTAri...



Pergantian malam ke Fajar.. 23-24 Mei 2010...

Udara berhembus sejuk sisa hujan semalam tadi. Sudahkah kau bangun pagi ini? Adakah aku dalam do’a sujudmu di fajar ini? Sujud-lah saja..Ruku’-lah saja..hadapkan mukamu untuk meminta pada Yang Kuasa. Selebihnya tak apa jika kau lupa akan diriku. Karena aku belum ingin terlalu berarti untukmu. Mungkin suatu hari, setelah kau ajari aku..bagaimana bersahabat dengan hati. Bagaimana caranya untuk berani..dan bagaimana percaya padamu.. “mentari”.
Mungkin tak akan pernah ada jawaban dari semua pertanyaan yang kau pendam padaku. Mungkin akan terbentang semua kata-kata yang akan merajam. Selalu awal yang indah menghantuiku. Mimpiku tentang hal ini pun telah beku. Tapi yang aku tahu, ada kau kini di jalanku. Coba yakinkan aku.. kali ini fahami aku.. Meski sesekali akan kutepiskan tanganmu dari pundakku. Atau sesekali aku akan berlari menjauh darimu.
Telah kucoba artikan sebuah kata dengan rumitnya. Beberapa telah mencoba membuatku faham akan maknanya. Aku sesak terpukau luar biasa. Aku sakit tersilau indah cahayanya. Lalu kau datang dengan lugunya..tak coba kau terangkan padaku apa maksudnya. Tak coba kau uraikan padaku jawabannya. Kau hanya berjalan disampingku..mengiringiku..menjelmakan semua tanpa bahasa. Memegang lenganku saat aku takut mengahapinya. Tersenyum sederhana saat aku marah dibuatnya. Benar-benar membuatku berhenti untuk memaksa fikirku mengerti..
Aku belum mengerti arti dirimu disisiku..aku kesulitan memaknai dirimu dihariku.. tapi aku bersyukur Tuhan mengirimmu menemaniku saat ini.. lalu saat kau baca ini “mentari”, masih maukah kau pegang erat tanganku hadapi hari??
Dedicate to Ferri, jangan tanyakan padaku tentang hal ini, aku juga tak mengerti..tapi kaulah yang ada kini..

Jumat, 17 April 2009

Bismillah.., Dengan nama-Mu Yaa Rohim...



Hujan deras mengguyur kotaku sedari tadi. Padalah siang barulah berjalan separuhnya. Rasanya alam sedang tak berkompromi dengan perutku yang lapar melilit tak karuan. Dari pagi belum terisi makanan apapun selain kopi sisa semalam dan satu gelas lagi traktiran teman. Ahhh…seandainya aku bisa memilih ditraktir apa dan dimana.. Tapi selain itu tak sopan, mana boleh juga menolak rejeki..,mungkin inilah rejekiku hari ini. Aku sungguh malu sekali…tak ada yang bisa kubagi hari ini.
Rasanya kalau tak ingat malu, aku ingin berlari meninggalkan kota ini. Kalau aku tak punya mimpi..mungkin dari dulu aku sudah kalah. Tapi aku merasa ada banyak hal yang belum aku selesaikan. Ada dosa-dosa menggunung yang masih harus kumintakan ampunan. Ada mimpi-mimpi yang menari-nari di setiap malamku. Ada hati yang harus kujaga dan kuperjuangkan. Ada kebanggaan yang ingin kujunjung di semua alamku. Agar terhenti semua tawa yang menghina. Agar ku genggam erat semua tangan yang merangkulku.
Masih ingat saat aku menginjakkan kakiku ke tempat ini. Hanya sebuah koper tua warisan ayahanda. Lorong yang dikanan kirinya pintu kamar berhias lampu kuno menambah tua bangunan yang kini menjadi sesuatu yang kusebut rumah. Bau aneh yang tidak bisa kudefinisikan dulu, kini bahkan tak kurasakan lagi. Hidung ini sudah terbiasa rupanya. Bahkan nyamuk-nyamuk yang dulu berebut darahku, kini juga merasa prihatin dengan badanku yang semakin kurus kering. Atau darahku tak lagi manis?? Terlalu banyak berlauk ikan asin. Ahh…,nyamuk itu pun kasiani aku. Sungguh sial aku..! Suatu waktu pernah kuteriaki para nyamuk itu. Tentu saja saat aku lagi baik hati.. “Muk..nyamuk…!!cepatlah makan darahku saja saat ini, nanti kalian akan merinduku. Karena saat aku sukses dan gemuk lagi.. akan kutinggalkan tempat ini.. !!”
Sudah lupa aku berapa lama angan-angan hanya sekedar rencana.. sampai aku mengenal seseorang. Tubuh kurus kering yang mengenaskan dari pada tubuhku yang juga kurus itu. Bukan berasal dari kurang makan atau kehabisan dana. Itu hasil terlalu berfikir.. manusia mana tak habis badan jika semua beban hati ditelan sendiri? Aku saja tak sanggup membayangkan. Mungkin aku sudah meledak seperti tabung gas LPG 3 Kg yang sekarang marak diberitakan. Tapi tubuh cekingnya itu bertolak belakang dengan gayanya yang gesit. Macam lalat yang seakan punya tiga nyawa. Sungguh menipu..
Hari ini dia bangun lebih pagi dari biasanya. “Nyari rejeki ekstra bos!” katanya seakan menjawab pertanyaanku yang tak keluar dari kepalaku. Mungkin pandangan mata heranku sudah cukup merupakan pertanyaan. “hmm…” aku tersenyum berbasa-basi membalasnya. “Sumanto!” masih kuingat waktu setengah tahun yang lalu dia datang ke tempat ini. Tas ransel doreng mirip tas-tas tentara di punggungnya. Nampak sangat terlalu berat untuk ukuran tubuhnya. Tentu dia bukan kanibal meski namanya mirip. Bahkan dia sepertinya vegetarian. Belum pernah kulihat dia makan nasi berlauk ikan ato daging. Hanya tempe ato tahu… laen hal… jika ikan teri itu juga digolongkan daging.
Jauh setelah hari hujan itu, saat aku sadar bahwa Sumanto bukan seorang vegetarian. Itu karena beberapa kali dia mengoleh-olehi aku daging ayam. Sampai pikiran iriku hampir mengatakan bahwa Sumanto yang kukenal ini sama dengan Sumanto si kanibal itu. Masalahnya tubuhnya jauh lebih gemuk..dan senyumya lebih mengembang karena pipinya lebih gembul. Bukankah antara lain karena dia sudah makan daging??! Ahh..tentu saja itu karena pikiran burukku saja.. Hari itu hari saat aku sedang memperbarui rencana masa depanku. Aku sedang menyusun strategi baru. Karena strategi yang lalu sudah usang tidak mungkin dilaksanakan karena waktunya sudah tidak tepat. Sudah kadaluarsa alias karatan. Makanya aku pikir..perlu rencana baru yang lebih modern.
Tiba-tiba pintu kamarku diketuk seseorang.. Tas ransel doreng menjulang disangga bahu kekar.. itu Sumanto. “Ada apa? Kau mau kemana?” tanyaku langsung.. “Aku mau pamit bos.. mau pindah, Alhamdulillah.. Aku sudah nyicil rumah” jawabnya santun dengan senyum ramah. “Alhamdulillah…kapan kau mulai tempati rumahmu itu To?” tanyaku lagi.. “Besok bos, barangku tak banyak juga. Cuma baju dan radio tua, aku kesini mau pamitan bos..” katanya malu-malu. “Knapa mendadak To..?”, “Gak mendadak bos, sebenarnya sudah lama aku kepengen pindah dari tempat ini”. “Hebat kau To.. selamat ya?!” “hihihi…macam apa dikasih selamat bos.. tapi terima kasih jugalah aku bos” “Ternyata kau lebih dulu meninggalkan tempat ini To.., aku harap aku segera menyusulmu meninggalkan tempat ini.” “Bos pati bisa lah.. malah akukan yang ngajari juga bos..” “Ngajari bagaimana to To?” tanyaku semakin penasaran. “Ya..bos kan yang ngajari aku untuk selalu bermimpi.. Untuk selalu memupuk mimpi-mimpi kita bos..” lama aku terdiam… bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Aku semakin tak mengerti..apa yang beda antara aku dan Sumanto. Kami sama-sama bermimpi.. tapi … ahh… aku tak mengerti. “Sudah ya bos.. aku pamit dulu.. aku masih akan sering ke sini kok bos.., aku tentu saja tak akan lupa tempat ini. Apalagi sama bos!” ** hening.. kami bersalaman..
Saat tubuhnya memunggungiku.. kuberanikan mulutku bertanya pada orang ini, pada orang yang secara pendidikan formal tak jauh lebih tinggi dari aku.. pada orang yang selalu memanggilku bos. “To..apa yang kurang dari mimpiku???” tanyaku hampir berteriak. Langkahnya terhenti dan dia membalikkan tubuhnya menghadapku. “Aku tak tahu bos.. saat bos mengajariku bermimpi.. aku hanya menurut saja. Aku mimpi setinggi yang aku inginkan. Lalu setiap pagi saat aku bangun tidur.. Aku ucapkan ‘Bismillahirrahmanirrahim…dengan Nama Mu Ya Rahim.. ijinkan aku mewujudkan mimpi-mimpiku hari ini..’”, begitu saja bos…
Aku mengangguk.. kuangkat jempol kananku padanya.. lalu kubilang “Tunggu aku kawan! Aku akan berlari wujudkan mimpiku”. Hari itu setelah kulihat dia pergi.. kuambil wudhu.. lalu setelah sholat kuraih ranselku. Aku tak jadi mengatur rencana baru. Aku hanya perlu menjalankan mimpiku.. Bismillah.., dengan nama-Mu Yaa Rohim..
The End..
** inspired oleh sebuah lagu
Hidup ini.. sederhana, berani bermimpi.. lalu mewujudkannya.. -